Polemik Seragam Berjilbab, Pintu Masuk Gugat Perda Syariat


Polemik Seragam Berjilbab, Pintu Masuk Gugat Perda Syariat

Oleh : Dian Puspita Sari
Ibu Rumah Tangga, Member AMK

Beberapa saat lalu, video “live” di  akun media sosial Elianu Hua yang berisi percakapan antara wali murid dengan perwakilan SMK Negeri 2 Padang mendadak viral. Pihak sekolah memanggil Elianu ke sekolah karena Jeni Cahyani Hia, anaknya, menolak mengenakan jilbab karena ia  nonmuslim. Jeni merasa tidak memiliki kewajiban mengenakan jilbab karena menganut agama non Islam.
Dalam video tersebut, Eliana mengatakan anaknya cukup terganggu dengan kewajiban mengenakan jilbab.
Pihak sekolah sendiri merasa janggal, jika ada siswa yang tidak  mengikuti peraturan sekolah, karena sudah disepakati bersama sejak awal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim pun bereaksi dan mengatakan bahwa setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir dan berekspresi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan usianya dibawah bimbingan orang tua. Hal itu berpedoman  pada pasal 55 UU 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.
“Sekolah sama sekali tidak boleh membuat peraturan atau hmbauan kepada peserta didik untuk menggunakan model pakaian kekhususan agama tertentu sebagai pakaian seragam sekolah, apalagi jika tidak sesuai dengan agama atau kepercayaan peserta didik,” terang Nadiem. Dia berpendapat bahwa apa yang terjadi di SMKN 2 Padang tersebut sebagai bentuk intoleransi atas keberagaman. (antaranews.com, 26/1/2021)

Isu pemaksaan siswi non muslim untuk berseragam jilbab ini sebenarnya dibantah oleh salah satu alumnus SMKN 2 Padang, Delima Febria Hutabarat. Ia, mewakili sebagian temannya,  merasa selama tiga tahun belajar, mereka tidak pernah dipaksa berjilbab. “Guru-guru selalu memberi kami ruang untuk memilih. Tidak pernah ada pemaksaan apalagi intimidasi,” ucap Delima. Tambahnya, memakai jilbab (baca: kerudung) sebagai penutup kepala juga  tidak merusak keimanannya sebagai penganut agama non-Islam.
(republika.co.id, 24/1/2021)

Perda Syariat Digugat

Meskipun sudah diklarifikasi pihak sekolah dan beberapa siswanya, hingga kini isu intoleransi terkait aturan seragam “berjilbab” di sekolah itu kian membesar. Isu tersebut sengaja dibesarkan oleh kaum sekuler. Sehingga fakta masalah ini berakibat munculnya desakan dari sebagian pihak sekuler agar peraturan walikota padang yang menjadi dasar seragam berjilbab di kota tersebut dicabut.

Hal ini bisa dilihat dari sikap terbaru Mendikbud Nadiem Makarim yang meminta pemerintah daerah (Pemda) atau kepala sekolah mencabut aturan yang mewajibkan atau melarang seragam kekhususan di sekolah negeri.
Permintaan itu juga merupakan salah satu dari enam keputusan utama dari Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri. SKB 3 Menteri itu dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. (kompas.com, 3/2/2021)
Selain itu, disinyalir muncul pula  tuntutan gugatan serupa terhadap perda syariat lainnya yang sudah mereka lakukan sejak dua tahun lalu (2018). Menurut mereka, perda syariat memunculkan banyak masalah.
Seperti perda syariat berpotensi untuk dijadikan komoditas politik,  berpotensi diskriminatif, intoleran dan dugaan-dugaan tendensius  mereka lainnya.

Benarkah perda-perda syariat yang lahir dari syariat Islam itu  bermasalah, seperti klaim kaum moderat dan liberal?

Jilbab, Kewajiban Muslimah bukan Intoleransi

Menuding “intoleran” terhadap ajaran “jilbab” di balik isu pemaksaan jilbab terhadap siswi non muslim di SMKN 2, Padang adalah fitnah keji terhadap risalah Allah. Sebelum ini telah berlalu fitnah-fitnah keji terhadap syariat Allah lainnya.
Singkat kata, Islam yang agung  telah lama mereka fitnah sebagai ajaran radikal dan intoleran.
Bukti-bukti nyata ini telah nampak di hadapan kita, kaum berakal.

Alih-alih kaum sekuler mengklaim perda-perda syariat bermasalah. Justru Demokrasi-lah biang 1001 masalah kehidupan, intoleransi yang mendera negeri ini, dan berbagai kerusakan di darat dan laut yang ditimbulkan oleh penerapannya.
Di era ini, jangan berharap ketaatan kita kepada Allah secara kafah akan difasilitasi oleh negara sekuler. Faktanya,  pemberlakuan syariat Islam sebagai aturan publik sama sekali tidak mereka berikan ruang. Islam mereka kerdilkan dan kebiri sebatas ajaran ritual, tak ada bedanya dengan agama-agama lain.

Sedari awal Islam diturunkan Allah, Dia telah meridai Islam sebagai agama yang sempurna, satu-satunya solusi tuntas atas 1001 masalah hidup umat manusia.

Adapun jilbab, sama halnya khimar, adalah kewajiban yang disyariatkan Allah atas muslimah.
Allah Swt. berfirman,

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,..” (QS. An-Nur: 31)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Dari sini, jelas seruan Allah pada muslimah untuk mengenakan kerudung dan jilbab adalah solusi yang diberikan Allah agar:
– Kemuliaan perempuan terjaga.
– Pintu atau celah bagi kemaksiatan lebih besar, yakni aktivitas mendekati zina dan zina itu sendiri tertutup.
Perkara non muslimah hendak menutup aurat dengan berkerudung atau berjilbab, Islam sama sekali tak mempermasalahkannya.
Jadi, apakah non muslimah  menutup aurat dengan kerudung/jilbab atau tidak, bukan masalah. Masalah khimar dan jilbab adalah masalah keyakinan muslim terhadap hukum ajaran Islam. Bukan masalah toleransi atau intoleransi antara Islam versus non Islam (yang ada unsur pemaksaan terhadap non muslim).

Sebaliknya, jika kaum perempuan beramai-ramai membuka dan memamerkan auratnya (berpakaian tapi telanjang) di ruang publik, bukan kehormatan yang mereka dapatkan, melainkan banyak kasus penodaan. Seperti kasus-kasus pelecehan seksual yang marak terjadi di era masyarakat sekuler liberal saat ini.

Oleh sebab itu, jika ada orang tua muslim yang mengarahkan anak-anaknya untuk mengenakan khimar dan jilbab, ini adalah sebuah kebaikan. Karena hal itu sudah menjadi kewajiban kedua orang tuanya yang kelak dimintai tanggung jawab di hadapan Allah. Begitu juga jika sekolah membuat aturan yang mewajibkan seragam khimar atau jilbab. Bahkan kalau pun mereka mewajibkan aturan tersebut pada siswi muslim maupun non muslimnya, itu juga merupakan bentuk edukasi yang membiasakan siswi-siswinya untuk melakukan kebaikan. Salah satunya menutup aurat.

Keniscayaan bagi muslim untuk mentaati syariat Allah secara kafah (baca: Islam kafah) dengan tenang tanpa ancaman intimidasi dan diskriminasi mustahil diwujudkan oleh negara berasaskan sekularisme. Sekularisme memisahkan dan menjauhkan kaum muslimin dari Rabb dan agama-Nya. Hal ini jelas menyebabkan kegelisahan di tengah masyarakat, khususnya kaum muslimin.
Atas izin Allah, ketaatan muslim kepada Rabb-nya secara kafah hanya mampu diwujudkan oleh institusi negara yang berasaskan akidah Islam. Yakni khilafah ‘alaa minhaaji nubuwwah.
Khilafah akan:
– Menerapkan hukum-hukum Allah dalam seluruh aspek  kehidupan (poleksosbudhankam, termasuk aspek pendidikan dan kesehatan).
– Menegakkan hukum-hukum Allah atas kaum muslimin yang termaktub dalam nash-nash syara’ (Al-Qur’an dan sunah).
– Menutup pintu rapat-rapat dari kemungkinan adanya polemik dan kontroversi di tengah masyarakat. Melalui penegakkan hukum Allah yang Maha Adil, tegas, tanpa tebang pilih.
– Tetap memberikan ruang publik bagi non muslim untuk meyakini dan menerapkan keyakinan agama mereka, baik dalam hal ibadah, pakaian, ritual pernikahan dan kematian, maupun makan- minum mereka. Sebatas di komunitas-komunitas mereka.
– Mewujudkan konsep Islam rahmatan lil alamin.

Wallahu a’lam bishawwab.

Link: https://cendekiapos.com/nasional/polemik-seragam-berjilbab-pintu-masuk-gugat-perda-syariat-9204

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s